2/14/2011

Kebersamaan di Kasupadman



Keluarga bukanlah keluarga jika kebersamaan tidak dijaga. Keluarga juga bukan keluarga jika dalam kebersamaan tidak dilengkapi dengan kasih, saling memahami, dan saling berbagi....
Kasupadman layak disebut keluarga karena segala hal dilewati dengan kebersamaan yang indah.
Berikut hanya sedikit gambar tentang kebersamaan kami.



Kakung, Rangga, Afan, dan gerobak dorong




Bercanda di alam bebas





Camping Kasupadman





Hiking ke paman Gati





Dalam sebuah Trekking




Raina di sarang penyamun





Bermain lumpur (jangan bilang budhe Wiwik ya...)





Melewatkan siang di sawah





Treasure Hunt di Plunyon - Kalikuning

(Bersambuuuung......!)

2/12/2011

Kakung Semasa Remaja







Soepadma muda yang 'bening'

Bagi anggota Kasupadman yang "Nakal", jangan khawatir dan jangan merasa bersalah. Soalnya ada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa "nakal itu pertanda pinter". Tapi kalau ada yang nakal tapi agak "blo'on" memang kelihatannya pantas untuk dikhawatirkan dan di salahkan. Soalnya gabungan kedua sifat itu belum pernah ada dalam alur genetik-nya Kasupadman.


Kakung "pledhang-pledhing"


Yang sedikit melegakan adalah; Kakung sendiri pernah 'keprucut' mengaku bahwa masa remajanya dulu juga agak nakal meskipun (Kakung buru-buru menambahkan) juga dipenuhi dengan kerja keras. Jadi sebetulnya, Kakung itu menyukai hal-hal yang berbau kenakalan, asal dibarengi dengan kerja keras - sesuai dengan tugasnya masing-masing - dan membuktikan hasilnya pada saat yang tepat.



Bergabung di group sandiwara "The Collector" - Kakung berdiri paling kiri




Kakung bergaya Koboi dgn teman-temannya

Hmm...ini hanya beberapa foto masa remaja Kakung yang bisa di recover sampai saat ini, (pfff....., andai saja era digital dimulai sejak Kakung masih remaja...., tak akan sesulit ini mengumpulkan foto-foto Kakung di masa remajanya dulu).




Kakung and his gank...., di pantai Krakal



Dengan temannya, Kakung biasa nongkrong di pinggir jalan menunggu cewek lewat
(Mungkin juga Uti yang ditunggu).



Akhirnya cewek idaman kakung bertekuk lutut juga.
Uti dan Kakung semasa berpacaran.


Akhirnya masa remaja Kakung berakhir disini, ketika Uti mengikrarkan sumpah setia dihadapan penghulu.





Cerita selengkapnya, silahkan hubungi Kakung secara personal di ndalem Kasupadman.






1/15/2011

ONCE UPON A TIME IN WONOSARI


Api Unggun


Bunga Mount South

Telah lama sekali rasanya Kasupadman tidak berkunjung ke rumah Eyang Pudjosudarmo di Wonosari. Karenanya, setelah melewati masa-masa ujian akhir semester I, kami berencana mengunjungi Eyang Putri di Wonosari.
Hari itu tanggal 18 Desember 2010, kami semua meluncur menyusuri jalan-jalan terjal dan mengasyikkan menuju ke Wonosari. Tiba disana sekitar jam 3 sore, dan segera mempersiapkan segala sesuatu untuk membuat api unggun dan acara bakar jagung (juga memproduksi sate klathak yang super asin).
Begitu malam menjelang, api unggun segera dinyalakan, dan jagung hasil kebun Eyang Putri segera dibakar. Tak hanya jagung yang di bakar malam itu, tetapi juga umbi ketela yang kami cabut di samping rumah eyang. Lalu sate klathak menyusul untuk di bakar.

Bebakaran

Setelah menikmati barbeque ala Wonosari, kami semua berkumpul dan bermain beberapa game yang akhirnya di "juarai" oleh Abi. (Maksutnya..., juara harapan ke 14).
Malam itu kami semua tidur 'untel-untelan' beralas tikar melawan hawa dingin karena sarung-sarung lupa tidak dibawa.

Gabby menjelang tidur

Paginya...., sarapan berlangsung dengan tertib dan khidmat. Beberapa anggota Kasupadman bahkan menikmati sarapan dengan lebih nikmat karena bercampur 'iler'-nya sendiri karena belum mandi.
Segera setelah sarapan kami semua meluncur menuju pantai Baron untuk bersenang-senang. Kegiatan di pantai itu sebetulnya juga untuk 'ngguyang' mereka-mereka yang ogah mandi selama di rumah Eyang. Setiba di pantai mereka-pun segera 'mengguyang' diri mereka sendiri tanpa di perintah dan di paksa.

Di pantai Baron

Lewat tengah hari, ketika ombak semakin tinggi, kami segera meninggalkan pantai dan kembali ke Wonosari untuk bermain 'Treasure Hunt".
Permainan ini dimainkan oleh semua jagoan Kasupadman, mengambil tempat di sekitar rumah eyang dan alam liar di seberang jalan. Game ini berhasil di selesaikan dengan gemilang berkat kerja sama yang bagus dibawah kepemimpinan Rangga yg ditunjuk sebagai ketua kelompok Treasure Hunter.

Acara Treasure hunt

Senja hampir menjelang ketika kami menyelesaikan 'Treasure Hunt'. Tiba saatnya untuk makan malam dan mempersiapkan segala sesuatu untuk acara Nonton Bareng semi final piala AFF antara Indonesia melawan Filipina. Meskipun ada sedikit gangguan teknis pada saat pertandingan itu, tapi kami mengikutinya dengan semangat menyala-nyala. Pertandingan akhirnya dimenangkan tim Indonesia.

Sorak sorai kemenangan

Setelah pertandingan usai, kami segera packing dan turun gunung kembali pulang menuju Jogja. Berakhir sudah kunjungan Kasupadman di rumah Eyang Pudjosudarmo.
Terima kasih untuk Pakdhe Nanang, Budhe Meksi, Mbak Lia, dan Mbak Nina yang turut menghangatkan suasana di sana.
Kami akan selalu ingat "Once Upon a Time in Wonosari".




2/16/2010

DUNIA SENI KASUPADMAN


Notice:
This posting is still under construction. Some important data and pictures are still being recovered to make this posting complete and representable. Thank you.


Berbicara tentang Kasupadman, rasanya kurang lengkap jika tidak menyinggung tentang sepak terjang anggota keluarga ini dalam dunia seni.

Tentu saja jiwa seni para 'Kasupadmanese" (anggota keluarga Kasupadman) diturunkan dengan sukses oleh para foundernya; Eyang Kakung Soepadma dan juga Eyang Putri Sudarwati (Uti).

Sebagai ahli dan juga pelantun tembang Macapat bertaraf 'advanced', Kakung juga dikenal sebagai seorang seniman batik kontemporer yg cukup diakui. Bahkan salah satu karya batiknya yang berjudul "hantu plits-plats" kini dipajang di rumah salah seorang penggemarnya di Jerman. Kakung memang mumpuni dalam berseni-rupa. Karya-karya sketsa dengan media pensilnya banyak yg telah dituangkannya menjadi karya-karya batik yang indah. Meskipun banyak dintaranya yang berakhir di meja makan sebagai taplak meja dan serbet makan. Tapi setidaknya itu adalah taplak dan serbet yang memukau, dan membangkitkan rasa hangat.

Diwaktu senggangnya Kakung juga gemar bermusik. Salah satunya adalah bermain harmonika. Biasanya Kakung menjadi 'solo artist'nya, sementara kami duduk melingkar menjadi penontonnya. Harmonika milik Kakung adalah sebuah harmonika langka berwarna hitam dengan dua sisi yang masing-masing mempunyai nada dasar yang berbeda (C dan G). Lagu favorit Kakung adalah "potong bebek angsa" yang selalu dimainkannya hampir enam kali dalam sehari, manakala melihat kami butuh penghiburan. Lagu itu setidaknya cukup untuk membuat kami melonjak dan bertepuk gembira, atau bahkan njaprut karena bising.

Sebagai seorang instruktur kulintang, Kakung pernah membawa pulang satu set kulintang lengkap, dan di letakkan berjejer di ruang tamu rumah Pogung untuk mengisi liburan sekolah. Selama liburan itu, setiap hari kami memainkannya bersama-sama dengan lagu andalan "dayohe teko" (tamunya datang).
Meskipun kulintang-kulintang itu benar-benar membuat rumah kami terasa sesak dan sumpek, tapi setidaknya kami menghargai usaha Kakung untuk membuat kami selalu bergembira bersama selama libur sekolah. Dan kamipun selalu mengingat cintanya yang dalam terhadap kami semua.

.....dayohe tekooo...., gelarno klosoooo...., klosone bedaaaah....., tambalen jadaaaah....! Jadahe mambuuu...., pakakno asuuuu...., asune matiiiii......, kelekno kaliiii.......!!!


Lain Kakung, lain pula dengan Uti. Hasrat berkesenian Uti-pun sama menggebunya dengan Kakung. Lantunan suara Falceto-nya yang indah dan khas membuat Uti di gandrungi banyak group karawitan untuk didapuk menjadi sinden utama mereka. Bisa dibilang, dibanyak group karawitan, Uti selalu menjadi bintang utama sekaligus 'lead vocalist'nya. Tentu saja modal utama Uti bukan hanya suara falceto-nya yang melengking, tetapi juga kelembutan sikap dan kecantikan parasnya yang aduhai bin ambooi.
Sejujurnya, kecantikan Uti dulu hampir selevel dengan Luna Maya lho....!
Tak heran, seorang tukang kendang yang terkenal (yang hobi naek skuter) pernah pula jatuh cintrong setengah mati karena kecantikan Uti yang dahsyat.

Selain karawitan, Uti juga merambah dunia Paduan Suara. Di banyak event, kelompok paduan suara-nya Uti sering di minta untuk tampil memeriahkan suasana dengan lagu pembuka "Sepasang Mata Bola" yang melegenda.
Bisa ditebak...., Uti selalu berdiri di urutan terdepan...., tarik nafas...., lalu....;
....sepasang mata bolaaa....., dari balik jendelaaaaa....

Malam makin menggigit. Ketika hadirin berhamburan keluar...., mereka sibuk berbisik-bisik tentang si Luna Maya dengan suara falceto yang khas, yang biasa dipanggil "Bu Padmo"


Demikianlah...., maka virus-virus kesenian mulai menjangkiti kasupadmanese waktu itu. Penyakit berkesenian ini tanpa kami sadari telh menjadi bagian dari hidup kami selanjutnya. Penyakit itu memperhalus cita rasa kami, dan menyadarkan kami tentang indahnya kebersamaan dan saling mencintai.


Tentang Budhe Wiwik...., jangan terlalu kejam mendakwa bahwa dia tak pernah berkecimpung atau bersinggungan dengan dunia seni. Paling tidak, pada suatu masa, Budhe Wiwik pernah memutuskan untuk menyelami dunia seni tari. Iyaaa.... seni Tari....!!!

Waktu itu Kakung memanggil seorang guru Tari untuk Oom Frans (murid Kakung dari England), dan budhe Wiwik bersikeras untuk ikut belajar menari. Kata Kakung, Budhe Wiwik setengah memaksa Kakung utk mengijinkannya belajar tari. Tentu saja Kakung tak bisa menolak kemauannya, dan akhirnya memberinya ijin.
Meskipun agak impossible untuk merubah postur tubuh Budhe Wiwik yang terlanjur 'pothok' karena terlalu banyak badminton menjadi lemah gemulai seperti penari, namun akhirnya pelajaran tari itu-pun dimulai juga.
Awalnya gerakan-gerakan tari masih mirip dengan gerakan 'smash' di lapangan badminton. Tapi lama kelamaan cair juga dengan sendirinya, meskipun kami semua tahu usaha kerasnya Budhe Wiwik waktu itu.

Budhe melahap semua gerakan dengan penuh percaya diri, dan kadang kadang mempraktekannya sendirian di depan TV saat kami semua sedang tidur. Finally..., setelah beberapa waktu berlatih, Budhe Wiwik bisa menyelesaikan gerakan tari "Klono Topeng" yang gagah secara lengkap dan sempurna (tanpa embel-embel gerakan smash).
Lho...., kok Klono Topeng yaa...? Kok bukan tari Gambyong atau tari Golek yang gemulai sih?
He..he..he..., jawabannya hanya Budhe Wiwik yang tau.

...forehand...., backhand...., smaaaash....! ...ning...nong...neng....gung...tak..tung...tak...tung....!!!


Tentang Budhe Ninik...?
Hmm..., dia ini maestro seni di Kasupadman. Tepatnya, sejak dari kecil dia sudah mewarisi jiwa seni Kakung dan Uti. Mngkin darah seni mereka pling banyak nyiprat ke Budhe Ninik. Tetapi secara fisik, jelas darah Uti-lah yang paling banyak nyiprat ke budhe Ninik. Lihat saja jidatnya yang agak 'nonong', nyata sekali bahwa Uti yang harus bertanggung jawab dalam hal ini.
Sejak kecil, Budhe Ninik sudah gemar menari dan bergabung di sebuah sanggar tari di Jl.Kaliurang. Disana jiwa seninya benar-benar diasah dan di bentuk hingga seni benar-benar menjadi seperti nafas yang dihirupnya setiap saat.
Di sanggar itu Budhe Ninik belajar dgn sungguh-sungguh dan penuh semangat, mempelajari berbagai jenis dan macam tarian. Di rumah - dimeja makan- kami sekeluarga kerap dijejali dengan cerita-cerita tentang kehebatan Mas Marjiyo guru tarinya. Yup...tul...., Budhe Ninik memang membanggakannya sedemikian dalam, mungkin sekaligus juga mengidolakannya..., hingga cara mingkemnya-pun ikut-ikutan mirip cara mingkem-nya Mas Marjiyo (huahahahaha....).

Eiits..., jangan ngguyu dulu. Kenyataannya kehidupan Budhe Ninik di sanggar tari itu menggores demikian dalam. Tari demi tari, panggung demi panggung dilalui dengan semangat dan suka cita, hingga tiba saatnya Budhe Ninik harus kuliah. Tentu saja Seni Tari adalh bidang yang dia ingin dalami secara total. Jadilah kemudian Budhe Ninik seorang mahasiswi seni tari di Institut Seni Indonesia.
Perjalanannya dibidang seni tari begitu panjang dan luas sehingga membuatnya menjadi alah seorang penari yang cukup di perhitungkan. Bahkan kecintaannya terhadap seni tari telah membawanya ke USA, dan Budhe Ninikpun berkesempatan mempelajri tari-tarian dari belahan dunia yang lain waktu berada di USA.

Sekarang sudah gak pernah terdengar lagi cerita-cerita bangganya tentang Mas Marjiyo. Mungkin disimpannya jauuuuh di lubuk hati. Yang jelas, cara mingkemnya masih tetap serupa.


Bersambung....

KASUPADMAN UNFORGETTABLE PICTURES


Di bawah ini adalah beberapa foto-foto yang tak akan mudah untuk dilupakan begitu saja. Silahkan simak foto foto berikut ini...., siapa tahu anda termasuk didalamnya.

Rangga & Om Wahyu



Kakung bersama Uti sedang berlibur di pantai utara Jepara




Penat sehabis Trekking, air sungai terasa segar.




Lila tak ketinggalan ikutan nyebur.


Ibu dan Bapake Gabby juga ngadem di kali.



Ini dia...., sing mbaurekso Kalikuning.



Di mulut gua yang habis di fogging sama Budhe Wiwik.







Rangga & Mamanya....


Trekking lereng selatan Merapi, sewaktu mbak Rani masih 'brimob'



Joko Tarub lagi adus (setahun pisan)



Briefing sebelum Treasure Hunt di Kalikuning



Trio Kwek-kwek Kasupadman di Pantai Benteng Portugis



Ketua suku Kasupadman leyeh-leyeh ditemani cucu



Nyonya DANZIPUR dan Raina


Gabrielle Padma Ratusae, Juli 2009


Rangga, Afan, & Oom Wahyu Trekking di Pethit Opak


Oom Yayan deep inside the cave


Kasupadman Caving di Gua Cerme

Bersambung lho....!!!
Masih banyak yg seru.

TO ALL KASUPADMAN FAMILY

Hello semua,

Hari ini tanggal 16 Februari 2010, Oom Wahyu dan Rangga telah membuat sebuah sarana untuk menuliskan semua uneg-uneg atau cerita melalui blog ini.
Semua anggota keluarga mempunyai hak untuk 'posting' di blog ini. Silahkan kirim 'posting'-an anda melalui e-mail ke ndombley@gmail.com dan attach foto-foto yg anda ingin tampilkan dalam e-mail yg sama. Kami akan segera edit artikel atau cerita anda (bahkan puisi atau tembang macapat juga boleh) untuk ditampilkan di blog kita yg baru ini. Artikel atau cerita yg hendak ditampilkan di dalam blog ini harus asli dan bukan saduran atau jiplakan.
Akhirnya, selamat menikmati blog ini dan jangan lupa banyak-banyak posting supaya kami semua tahu apa yg terjadi dengan keluarga kita.
Hidup KASUPADMAN.

salam sayang,
RANGGA & Om Wahyu